Jumat, 23 Oktober 2015

AGAMA DAN PERDAIMAIAN (Imanku Mendamaikan Dunia)


Nama : Dinda Amelia 
NIM : 15.E1.0251
Dosen : Gregorius Daru Wijoyoko


Potensi Agama dalam Kehidupan Manusia dalam Realita dan Fakta
(Nugroho,S.Th.I, M.S.I)


Agama dan manusia sangat sulit untuk dipisahkan hal ini terlihat dalam sejarah kehidupan manusia. Agama telah diyakini oleh manusia merupakan petunjuk dalam kehidupan damai di dunia  dan akhirat. Namun pada kenyataannya agama sering menjadi faktor penyebab konflik bagi kehidupan umat manusia yang  beragama dan tidak mampu memberikan solusi secara tuntas semua persoalan yang dihadapi oleh manusia.
            Agama mempunyai fungsi ambivalen, satu sisi agama berfungsi sebagai perekat sosial  yang dapat merekatkan hubungan kelompok atau individu umat beragama atau masyarakat yang mempunyai latar belakang etnik, bahasa, budaya, kelas sosial ekonomi yang berbeda. Dengan kata lain agama mampu membangun solidaritas dan loyalitas yang tinggi bagi umat manusia.  Di sisi lain, agama mampu dan sangat berpotensi menjadi faktor signifikasi bagi munculnya konflik sosial yang sangat dasyat implikasinya karena melibatkan sisi yang paling dalam pada diri manusia. Konflik terjadi tidak saja terjadi antara pemeluk agama yang berbeda misalnya Islam-Kristen, Islam-Yahudi, Kristen Yahudi namun, bisa terjadi dalam intern agama sendiri misalnya dulu terjadi pada agama Kristen yaitu antara Katolik dan Protestan kemudian dalam agama Islam misalnya antara sunni dan syiah.
            Agama di dalamnya mempunyai pengaruh terhadap kehidupan umat manusia yang beragama  pertama extinction yaitu ketakutan pada pemeluk umat beragama akan hilangnya agama yang dipeluk dan diyakininya, ini bisa kita lihat kejadian di Papua ketika ada perda yang melarang umat muslim menggunakan pengeras suara maka munculah ketakutan akan eksisitensinya umat Islam disana. Kemudian di Palestina ketika Masjidil Aqsa yang diyakini oleh umat Islam sebagai tempat suci dan diserang, akan direbut oleh Israel mereka ketakutan akan hilangnya kota yang menurut agamanya suci. kedua exspanse adanya keyakinan serta perintah untuk menyebarkan agama yang dianutnya karena agamanyalah yang paling baik dan ironisnya ini memang diperintahkan dalam agama. Hal ini banyak sekali kita jumpai dalam berbagai teks suci agama misalnya Kristen dalam kitab sucinya “kamu adalah garam dunia, namun jika garam sampai kehilangan asinnya, dengan apa lagi kegaramannya akan dipulihkan”” dan dalam Matius 28:18-20 yang berbunyi “Kepadaku telah kuberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa menjadi murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu, senantiasa sampai akhir zaman”. Kemudian dalam Islam juga ada statemen dalam alquran yang berbunyai “Sesungguhnya agama yang diridhoi oleh Allah adalah Islam”. Agama budha mengajarkan bahwa dunia adalah penderitaan, manusia harus dibebaskan dari penderitaan tersebut, dengan menunjukkan kepada mereka jalan kelepasan atau kebenaran.   
            Keberagamaan kepentingan (intrest) dalam kehidupan umat manusia sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik. Jadi konflik sering terjadi dalam kehidupan umat manusia pada setiap waktu dan setiap saat. Hal ini dapat kita lihat dan kita baca dalam berbagai media baik konflik yang bersifat individu maupun kelompok masyarakat baik yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri misalnya masalah Ambon, Papua, Aceh, Sambas dll. Dan konflik yang terjadi sekarang antara Palestina dan Israil. Lebih-lebih jika interest ini telah dikaitkan dengan politik, fakta yang kita lihat pemimpin institusi baik formal maupun non formal yang ada biasanya hanya kawan, keluarganya saja yang diperhatikan dan diperjuangkan sedangkan musuh politiknya disigkirkan jauh-jauh bahkan disingkirkan bahkan ditindas dan dibatasi ruang geraknya.
            Sikap dan cara berfikir bagi ilmuan atau manusia yang beragama dalam mengkaji agama maka perlu adanya sikap “mencurigai” terhadap agama, ini dimaksudkan jangan-jangan justru agama adalah penyebab konflik. Adapun pintu-pintu agama yang perlu dicurigai adalah dogma(belief) ini dimaksudkan untuk melihat kepercayaan yang ada yang diyakini apakah sudah benar atau justru berisi penyebab konflik. Ritul (perform of actifities), Texs ini dimaksukan untuk melihat apakah teks suci yang jadi pedoman umat beragama memerintahkan untuk berkonflik atau untuk melarang konflik. Invest “outhority” melihat dan meneliti bagai mana pengaruh leader dalam agama. Telling storiesbagaimana cerita sejarah itu terjadi dalam konteks apa itu diberlakukan. Legitimate morality. Institusi melihat bagai mana peran institusi agama bermain dalam perdamaian atau konflik.
            Agama jika telah diyakini bagi pemeluknya sebagai yang paling sacral, paling suci dan paling sempurna dan baik dan cocok untuk sepanjang zaman tanpa melihat lingkungan yang lain, agama lain, etnik lain, budaya lain atauothers, maka akan menyebabkan fundamentalisme agama yang mengakibatkan adanya terorisme dan perang dengan mengatasnamakan agama atau Highly politics spirituality. Dengan sikap tersebut selain berpengaruh terhadap diri atau intern agama juga akan mengakibatkan pengaruhnya terhadap lingkungan ekstern yang mempunyai agama, etnis, budaya yang berbeda. Jika agama sudah diyakini sudah yang paling dan paling, biasanya akan terjadi  pemaksaan terhadap agama, etnik, budaya lain yang berbeda dengan mereka sehingga akan mengakibatkandiskriminasicruelties (kekejaman), unfoirness (tidak jujur), injustice (ketidak adilan), abuses (pelanggaran), danviolence (peperangan).
            Ketika penganut agama meyakini paling sempurna dan yang paling mampu dalam mengatasi persoalan sedangkan agama lain tidak biasanya penganut agama tersebut akan mencoba dan memaksakan agamanya untuk dijadikan salah satu aturan yang ada dalam suatu tatanan pemerintahan. Lebih-lebih agama itu merasa mayoritasmaka akan menyingkirkan yang minoritas. Dan dalam hal ini pula akan menyebabkan konflik dimasyarakat. Hal ini seperti yang telah terjadi dinegara kita yaitu munculnya ormas-ormas Islam seperti HTI, FPI, MMI dan lain-lain, yang mengiginkan merubah undang-undang dasar dengan syariat Islam. Dan mengiginkan Negara ini dipimpin dengan seorang khalifah. Dengan adanya isu itu pula maka yang merasa minoritas juga mengadakan perlawanan balik, karena dia juga merasa agama yang dianutnya adalah yang paling baik dan bagus dan yang paling pantas untuk menjadi pengatur dalam Negara ini. dan minoritas merasa terancam akan keyakinannya dan kurang ada pengakuan akan eksistensinya di Negara ini.
            Tidak dapat kita sangkal bahwa agama adalah salah satu yang berpotensi sebagai sumber konflik yang ada di dunia ini berdasarkan fakta dan data dalam sejarah kehidupan manusia, lalu apa yang harus diperbuat oleh umat manusia yang beragama yang pada dasarnya mengiginkan perdamaian?
a. Solusi Dasar ( Peace Keeping-Peace Building)
            Agama memang mempunyai fungsi ambbivalen. Dalam satu sisi mampu menjadi alat pemersatu dan satu sisi agama berpotensi sebagai sumber kinflik, maka dalam menghadapi persoalan ini kita selaku umat yang berketuhanan dan beragama maka telah menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita untuk melakukan deskontruksi pemahaman serta rekontruksi pemahaman terhadap ajaran agama agar agama mampu hadir dihadapan kita lebih terasa harmoni. Bukan untuk dibubarkan atau menyalah kan tuhan sebagai pemberi petunjuk.
            Sebagai umat beragama, teks suci adalah sumber dasar serta pedoman dalam melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupan umat beragama sebagai mkhluk tuhan. Teks suci adalah datangnya dari Tuhan yang isinya berupa perintah dan larangan untuk menuju kehidupan yang damai dunia dan akhirat. Manusia dalam melihat teks suci menggunakan pendekatan pemahaman, penghayatan, dan pengamatan, yang erat dari sisi impresi, eksperiensi, ekspresi diantaranya berupa ide dan pemikiran, manifestasi diantaranya berupa perilaku dan gerakan dan progresidapat berupa tatanan, hukum, perundang-undangan atau institusi-institusi.
            Agama adalah “hubungan” antara manusia dengan tuhan sebagai pencipta (creator, khalik) dan antara manusia dengan sesama ciptaan (sesame creature) yaitu antara manusia dengan alam dan manusia dengan sesama manusia. Yang mana hubungan dengan tuhan berupa perilaku, hubungan manusia dengan alam berupa kesadaran, dan hubungan antara alam dengan tuhan berupa fonomena alam.
            Manusia sering kali ketika akan melaksanakan hubungannya dengan tuhan lupa bahwa disitu ada hubungan dengan alam, dengan manusia yang lain. Maka dengan persoalan ini ketika manusia dalam mengintrepretasikan ajaran gama perlu kiranya memperhatikan berbagai aspek atau sisi diantaranya humanity, natural science, sosiologi, psikologi, histori dll. Banyak sekali orang beragama atau institusi agama dan pemerintah ketika mau melaksanakan atau menetapkan suatu hukum, membangun sarana untuk umat kurang memperhatikan others (women, race, etnic, non-muslim, non Kristen, clss, chaild, disable) misalnya banyak sekali gereja, masjid, vihara yang dibangun di Negara kita tidak menyediakan atau memfasilitasi kepada umatnya yang cacat. Banyaknya penggusuran yang dilakukan pemerintah dalam hal ini polisi pamong praja terhadap masyarakatnya yang membabi buta tanpa memberikan solusi yang memperhatikan sisi-sisi kemanusiaan padahal mereka itulah satu-satunya tempat mereka tinggal selama hidunya. Kemudian perlakuan yang dilakukan ormas agama yang melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap orang lain seperti yang terjadi dimonas.
            Institusi pendidikan perlu kiranya menanamkan kepada para siswanya dari lembaga yang palng dasar akan adanya pemahaman pluralisme dan multikulturalisme. Sehingga nantinya mereka sadar dan mengerti bahwa disekelilingnya ada berbagai macam etnis, budaya, agama dan lain-lain. Dan diharapkan dengan pendidikan yang seperti ini mereka nantinya bisa menerima dan mengakui  perbedaan yang ada.
            Institusi agama seharusnya ketika menetapkan hukum penting kiranya untuk mendialogkan, mengkopromikan,  serta melakukan consensus terlebih dahulu sebelum menetapkan hukum, melihat dan memperhatikan bahwa kita hidup dinegara apa dan hokum apa disekitarnya juga. Misalnya kita harus melihat dan menyesuaikan dengan hokum international, budaya, agama lain, kebutuhan ketika kita ingin membuat serta menetapkan hokum dan perlu adanyaequality terhadap masyarakat diluarnya (others) itu berupa kesempatan, fasilits dana dan pemberdayaan yang sama. Dalam arti kontekstualitas dalam menetapkan hukum melaksanakan perintah agama sangat urgensekali untuk menuju hidup damai agar tidak ada yang tersakiti dan merasa tersingkirkan bahkan tertindas serta kita lebih kelihatan arif tidak arogansi oleh pihak lain diluar kita. Hal inilah kiranya yang belum dilakukan oleh umat manusia dimanapun saja berada pada saat ini karena hanya interest pribadi saja yang menjadi tujuan utama.

 b. Solusi Ketika Konflik Terjadi (Peace Mekeing)
             Konflik tidak bisa hilang pada diri manusia namun bukan berarti konflik tidak bisa diberhentikan atau di minimalisasi. Begitujuga konflik agama, konflik atas nama agama sering terjadi baik terjadi di interen (didalam agama yang satu) dan ekstern (agama satu dengan agama yang lain misalnya Islam-Kristen). konflik muncul karena ada pihak yang merasa tertindas, terdiskriminasi, tersingkirkan, merasa kurang adanya equality sehingga mengakibatkan adanya violence.
            Ketika konflik sudah terjadi yang dapat dilakukan oleh pendamai (mediator) antara lain yaitu melakukannegosiasi, dialog, kompromi, diplomasi, konsesus dan tentunya seorang mediator harus benar-benar idependent bukan memihak satu pihak saja dan tidak dalam keadaan bermasalah.  Yang menjadi tujuan utamanya adalah terwujudnya perdamaian antara pihak yang bertikai dengan menghasilkan sikap reconsiliasi pihak bertikai sehingga tidak meninggalkan dendam adanya adalah menerima tanpa melupakan.

sumber: http://nugrohomsi.blogspot.co.id/?m=1

menurut saya, agama seharusnya membuat kita untuk lebih menghargai sesama manusia tanpa membedakan agama, dan seharusnya dengan kita mempunyai agama ini membuat kita senang dengan kebersamaan, persatuan bukan dengan kebencian, perperangan dengan mengatas namakan agama. di era sekarang ini agama malah menjadi bibit konflik antara satu individu dengan individu lain atau satu elompok dengan kelompok lain, ini manusia yg salah mengartikan tentang keimanan kepada agamanya sehingga tidak bisa menghargai agama lainnya. dengan ini saya menampilkan artikel ini karena artikel ini sangat membantu kita untuk mengintrospeksi diri kita agar kita dapat lebih menghargai agama lain. toleransi itu indah. 

18 komentar:

  1. mungkin satu yg masih sering luput ,yaitu pendidikan mengenai toleransi harusnya ditanamkan sejak usia dini..

    BalasHapus
  2. Saya setuju dengan penulis, namun dapat ditekankan pula, bahwa walaupun banyak agama yang mengatakan bahwa agama itulah yang paling baik, setiap agama yang ada di Indonesia tetaplah mengajarkan perdamaian antar manusia, jadikan agama pedoman hidup dan bersosial, keyakinan bahwa Tuhan adalah 1 sangat penting, namun siapakah Tuhan itu dan bagaimana cara kita bersyukur kepadaNyalah yang akan kembali kepada diri masing-masing

    BalasHapus
  3. Sejatinya islam, katolik, yahudi adalah satu pohon yaitu Abrahamik. Ya..ketiga agama tersebut bertumpu pada ajaran Abraham/Ibrohim. Maka dari itu kita (khususnya 3 agama abrahamik) harus menjaga kerukunan satu sama lain karena sejatinya kita adalah 1 pohon

    BalasHapus
  4. setuju dengan artikel ini, konflik memang tidak dapat dihindari, tetapi semua agama mengajarkan bahwa sangat penting untuk menjaga perdamaian dan toleransi antar agama. hendaknya ajaran ini diterapkan oleh umat umatnya. agama tidak pernah mengajarkan hal hal yang menyesatkan dan membuat umatnya kesusahan. semua itu tergantung bagaimana kita menerima dan mengimplementasikan ajaran yang ada di dalam agama tersebut.

    BalasHapus
  5. Setiap pemeluk agama pasti meyakini kebenaran agamanya masing-masing, dan setiap agama sudah tentu senantiasa menekankan perdamaian dan kebahagiaan bagi manusia, untuk itu, seharusnya kita selalu menjaga dan menghormati perdamaian tersebut. Mulailah dari diri sendiri hingga akhirnya tercipta perdamaian abadi di seluruh dunia

    BalasHapus
  6. Setuju. Masyarakat globalisasi itu plural. Dan sehendaknya dirikita pun membiasakan diri dgn pluralisme, meski beda jangan membeda bedakan. Juga bertoleransi. Tp toleransi yang peduli, bukan toleransi yang hanya permisif saja

    BalasHapus
  7. Setuju. Masyarakat globalisasi itu plural. Dan sehendaknya dirikita pun membiasakan diri dgn pluralisme, meski beda jangan membeda bedakan. Juga bertoleransi. Tp toleransi yang peduli, bukan toleransi yang hanya permisif saja

    BalasHapus
  8. setiapp agama mengajarkan baik ke umatnya.

    BalasHapus
  9. Agama mengajarkan kita hal2 yang baik untuk sesama manusia, Tuhan dan alam. Tetapi terkadang kita salah mengartikan makna yang terkandung dalam ajaran agama tersebut sehingga terjadilah konflik.
    Jgn gampang terpancing provokasi orang. Telaah dulu, tanya kepada orang yg benar2 mengerti tentang agama. Baru kita menyimpulkan dan tau apakah itu tindakan yang salah atau benar

    BalasHapus
  10. Saya setuju dengan penulis namun tetap harus mengingat bahwa dalam konsep transcendent unity of religions dlm dimensi esoteris tercantum bahwa semua agama memiliki kesamaan dan kesatuan dlm visi transendental shg hal trsbt diharapkan dpt meminimalisir konflik yg ada.

    BalasHapus
  11. Agama yang sebagai perekat dalam berinteraksi dengan orang - orang disekitar, diharapkan mampu menimialisir konflik SARA

    BalasHapus
  12. Agama yang sebagai perekat dalam berinteraksi dengan orang - orang disekitar, diharapkan mampu menimialisir konflik SARA

    BalasHapus
  13. setuju banget, agama selain hubungan manusia dengan Tuhan juga mengajarkan hubungan manusia dengan manusia maka jangan sampai perbedaan agama yang ada pada bangsa kita ini malah memicu konflik perpecahan

    BalasHapus
  14. Setuju, sesungguhnya semua agama mengajarkan kebaikan. Dan masing-masing agama mempunyai cara sendiri dalam pelaksaannya. Yang perlu diminimalisir adalah adanya rasa egois menganggap kepercayaannya paling benar, dan perilaku yang meremehkan kepercayaan lain baik itu dalam satu agama maupun agama lain. Saya rasa yang masing kurang dari diri kita adalah rasa menghargai kepercayaan orang lain yang tidak sama seperti kita, karna kepercayaan adalah hal vital pada setiap individu yang tidak bisa dipaksakan.

    BalasHapus
  15. setuju dengan artikel ini, banyak manusia hanya memikirkan hubungannya dengan Tuhan tetapi lupa dengan hubungannya dengan lingkungan

    BalasHapus
  16. Setuju dengan artikel ini, manusia dalam mengintrepretasikan ajaran gama perlu kiranya memperhatikan berbagai aspek atau sisi diantaranya humanity

    BalasHapus
  17. Saya setuju dengan artikel ini, meskipun agama di Indonesia beragam, tak satupun perang atau perselisihan yang mencoba saling menjatuhkan agama lain

    BalasHapus
  18. Saya setuju dengan artikel ini, meskipun agama di Indonesia beragam, tak satupun perang atau perselisihan yang mencoba saling menjatuhkan agama lain

    BalasHapus